Day 7 (JawabinPertanyaandariChatGPT)

Apa yang Sebenarnya Kita Cari Saat Membaca Buku?

Ilustrasi Buku
Ilustrasi Buku

Jawaban: Tergantung dari jenis buku yang kita pilih. Gua pribadi, membaca novel mencari beberapa hal sekaligus: memperkaya daya imajinasi, coba menjadi lebih humanis, dan menguatkan sisi empati dalam diri. Di sisi lain, saat membaca buku-buku self-improvement, satu hal utama yang dicari tentunya adalah knowledge untuk menyelesaikan problem hidup.

Buat Pecinta Dunia Kreatif, Baca Novel Itu Bukan Perlu Tapi WAJIB!

Kalau lo udah mulai nyemplung ke dunia karir dan kerja di bidang kreatif, minat baca adalah suatu dorongan yang wajib ada. Khususnya keinginan untuk baca novel atau buku cerita. Karena gini….

Saat membaca narasi yang dituliskan si penulis, pikiran kita didorong mandiri untuk membayangkan dunia yang sedang dijelaskan. Entah itu latarnya yang lagi digambarkan, karakter tokoh yang coba diberitahu, sampai gerakan tubuh tiap karakternya saat melakukan aktivitas di dalam cerita. Kerja pikiran inilah yang sangat ampuh membuat daya imajinasi kita makin terasah. 

Saat daya imajinasi kita terasah, maka pertama peluang untuk menemukan ide-ide out of the box atau yang unik makin besar, atau paling minimal membuat kita lebih tahan melakukan kerja pikiran (mencari ide). Mereka yang kurang atau bahkan gak terbiasa melakukan kerja imajinatif, maka ya akan susah buat tahan berlama-lama mendalami dunia imaji untuk menemukan ide. 

Selanjutnya, yang gak kalah penting juga. Gua merasakannya langsung. Bahwa dengan daya imajinasi kita yang makin terasah, ini amat membantu kita dalam memahami isi komunikasi orang lain. Entah itu saat atasan ngasih brief, saat temen curcol, saat sesepuh lagi cerita masa lalunya. Kita bakal jadi lebih mudah dalam membayangkan maksud cerita mereka. Karena pikiran kita sudah dilatih terlebih dahulu dalam membayangkan ilustrasi dunia cerita si penulis (seperti yang gua bilang di awal). Jadi, saat kita mendengarkan isi perkataan orang lain (yang mendorong kita untuk mau berilustrasi), maka kita sudah terbiasa.

Kita Ini Human yang Kurang Humanis

Mau diakui atau enggak, menurut gua faktanya memang kita umat manusia belum tentu seutuhnya jadi manusia. Bakal jadi kerja seumur hidup kita untuk menjaga nilai kemanusiaan di dalam diri. Nah, salah satu cara yang bisa bikin kita jadi lebih manusiawi/humanis adalah dengan membaca novel.

Di dalam sebuah novel tentunya ada banyak tokoh yang memiliki watak berbeda-beda. Cerita imaji tuh emang beneran miniatur dari dunia asli. Ada ragam orang, ada ragam sifat, dan ada ragam isi kepala/hati. Kita diminta untuk memahami semua itu demi bisa memahami isi cerita.

Saat kita berusaha memahami tiap karakter tokoh itulah, kita secara tidak langsung sedang belajar menjadi manusia lewat proses empati. Empati itu satu hal besar yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, kan? Cuma manusia yang bisa berupaya membayangkan bagaimana bila mereka menjadi entitas lain. Gimana rasanya jadi seorang ibu yang berjuang sendiri, bagaimana rasanya jadi seorang anak yang ditelantarkan, bagaimana rasanya jadi karyawan yang terjebak rutintas yang menjemukan. 

Efek dari upaya empati kita pada berbagi tokoh di cerita inilah yang amat membantu kita untuk juga menjadi empati di dunia nyata. Mencoba memahami bahwa tiap keputusan orang lain pasti ada cerita di belakang layar, ada trauma masa lalu, ada kebimbangan mendalam di dalam benak mereka. Semua ini bisa diasah kalau kita rutin membaca novel. Karena si penulis menyajikan itu semua di dalam cerita. Tiap tokoh pasti punya cerita di balik setiap keputusan yang diambil.

Pembelajaran Emosinya Didapet dari Novel, Asupan Kognitifnya dari Buku Self-Improvement atau Keilmuan Lain

Tiap jenis buku punya jawaban atas kebutuhan yang berbeda-beda. Dan buku macam self-improvement, kayak yang ngajarin kita buat kerja keras, bangun relasi, percaya diri di publik, atau buku keilmuan kayak fakta luar angkasa, kesastraan, berbagai genre filsafat, semua ini punya manfaat luar biasa untuk membentuk paradigma di otak kita atau bisa cuma sekadar pemenuhan rasa haus akan ilmu yang juga jadi hal yang alamiah buat manusia. 

Keluhan bahwa buku keilmuan atau self-improvement itu berat isinya atau istilah-istilahnya, sebenernya gak berlaku kalau kita emang udah duluan suka sama topiknya. Kalau gua sih gitu, ya. Misal, saat membaca buku tentang luar angkasa, ya meskipun ada konsep yang sulit tapi gak lantas membuat kita berhenti membaca. Sebab, rasa suka terhadap luar angkasa membantu gua untuk terdorong mempelajari konsep yang gak diketahui itu. Kalau mentok, ya udah pindah ke pembahasan lain dari bukunya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *