Day 6 (JawabinPertanyaandariChatGPT)
Bagaimana Kamu Menghadapi Saat Buntu dalam Menulis atau Berkarya?
Jawaban: Paradigma terhadap alur hidup yang ajek. Harus berkeluarga di umur segini, punya anak setelahnya, harus sukses sebelum umur X, dsb.
Menurut gua, ya. Paradigma inilah yang jadi biang kerok kenapa jumlah anak muda yang merasa anxious dan depressed terus meningkat atau semakin banyak. This nonsense has to stop!
Berekspektasi Mah Gampang, yang Dikasih Ekspektasinya Pusying!
Para sesepuh yang dihormati, kalian tentu gampang ngasih ekspektasi. Karena berharap ini-itu ke anak-anak muda tentu gak perlu ngeluarin banyak energi, gak nguras mental, karena tinggal percaya sama norma yang udah dibentuk sejak lama. Dah.
Nah, yang dikasih ekspektasinya ini! Seolah dikasih beban tanggung jawab yang punya tenggat waktu super-duper ketat! Mana yang nagih deadline-nya banyak banget! Orang tua, Tante dan Om, Bu-Ibu cerewet depan gang, temen Bokap-Nyokap, dan masih banyak lagi. Memangnya kalau kami penuhi deadline-nya akan menjamin kami langsung bahagia?
Ekspektasi Misi Hidup = Oke, Ekspektasi Alur Hidup = Zalim
Saat para calon orang tua sudah mengumpulkan ekspektasi ke calon anaknya, menurut gua ini wajar. Para Nabi pun berharap memiliki keturunan yang saleh, yang bisa berguna buat Islam, dan bermanfaat buat masyarakat. Inilah ekspektasi misi hidup yang gua maksud.
Seorang anak yang dikenalkan dengan misi hidup yang baik, yang juga diajarkan dalam Islam, akan membantu anak tersebut tumbuh dengan arah hidup yang jelas. Tapi kalau sampe semua jalannya diatur, ditambah juga ada deadline harus sampai ke titik A kapan, sampai ke titik B kapan. Apa gak too much?
Membebani alur hidup yang ajek jelas amat zalim. Padahal sama-sama kita tahu kalau setiap individu berbeda dengan individu yang lain. Pengalaman masa kecilnya berbeda, bakat bawaannya berbeda, kualitas sekolahnya berbeda, lingkungan tumbuhnya berbeda, start kerjanya berbeda, tingkat kedewasaannya berbeda.
Lah, kalau perbedaannya banyak begini, masa semua harus sampe ke titik yang sama dalam waktu bersamaan? Sama-sama menikah di usia 25 atau sebelum 30, harus punya rumah sebelum berkeluarga, sama-sama langsung punya anak after married, naik jabatan tiap beberapa tahun sekali. Seriously?
Start Berbeda, Check Point-nya pun Harusnya Berbeda
Jadi, yaa… emang udah seharusnya kebiasaan masyarakat dalam memandang hidup sebagai alur waktu yang ajek harus segera dihentikan. Start individu dalam hal apapun berbeda-beda, jadi memaksakan semua tiba di satu check point secara bersamaan, jelas gak masuk akal.