Seri Didot dan Luhur: Didot Harus Bekerja (Ep. 1)
Didot tiba-tiba mengatakan ke Luhur bahwa dirinya tak akan melanjutkan sekolah. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Didot?
Dalam suatu masa, di negeri dongeng, seorang pemuda berpakaian gagah menaiki kuda kesayangannya yang berwarna putih. Kuda itu merengek tak karuan sepanjang jalan, sepertinya sedang mencari tempat bersandar.
Seolah sudah ditakdirkan, kemudian kuda itu berhenti di rumah seorang penduduk bernama Asih. Si pemuda tak tahu, ternyata wanita itu adalah kembang desa yang hidupnya hampir sempurna. Wajah cantik, mandiri, telaten, punya selera bagus dalam berpenampilan, dan menjunjung sopan santun.
Wanita itu tanpa aba-aba, langsung mengelus kepala kuda yang sudah luluh di bahunya.
“Pangeran Didot? Mau mampir sejenak di gubuk sederhana rakyatmu ini?” Pinta Asih dengan nada lembut.
“Kalaupun aku menerima tawaranmu, ini bukan karena keputusanku. Melainkan karena kuda ini yang membawaku.” Si pemuda berusaha menjaga wibawanya.
Keduanya pun mengobrol sejenak di depan pintu. Saat pangeran itu mulai nyaman menceritakan perjalanan yang sedang dilakukannya ke sebuah tempat rahasia. Tiba-tiba saja kucuran air menghantam kepalanya.
“Bocor! Bocor! Asih, rumahmu bocor?” Sambil gelagapan, Didot terus mengulang perkataannya.
“Asih muatamuuuu! Ngapain kamu mimpiin si Asih?” Suara serak pria paruh baya ini tak asing bagi Didot.
Saat matanya baru terbuka setengah, ia sudah sadar. “Eh! Bapak? Asih manaaaa?” Tanyanya polos. Raut anak itu kecewa bukan main. Kepalanya tengak-tengok mencari gubuk sederhana, juga sosok wanita anggun yang sedang diajaknya berbicara sedetik lalu.
“Gila emang anak ini! Udah, cepet bangun! Kamu ini kerjanya cuma menghayal sajaaa!”
Bahu Didot melorot. Ia masih tak percaya, semua kejadian indah yang baru dialaminya ternyata cuma mimpi. Rasanya ia masih ingin berlama-lama menikmati momen demi momen bersama Asih, tetangganya yang sudah diincarnya sejak TK.
***
Selepas mandi, Didot duduk bersama ketiga anggota keluarga lainnya. Sarapan pagi ini adalah 2 bungkus sate ayam dan lontong. Sebungkus untuk bapak dan ibunya – sebungkus lainnya disantap Didot dan Bileh (nama aslinya Nabila), adiknya.
“Aaaaa! Jangan diaduk, dong! Kan, aku gak suka pedes!” Bileh mengeluhkan kelakuan kakaknya yang usil karena mengaduk bumbu kacang bersama dengan sambal, padahal ia tak menyukai pedas.
“Yaelah, sedikit doang, Bil.”
“Kamu ini gimana, dari dulu gak paham-paham, Dot! Adikmu loh, udah sering bilang kalo dia gak suka pedes!”
Setelah mendengar bentakan Emaknya, Didot mengerut. Percuma ia membantah, adiknya selalu saja dimenangkan.
“Dot, Bapak dan Emak sudah sepakat. Sekolahmu gak usah dilanjutkan, ya.” Ucap Mang Ateng tanpa basa-basi.
Anak itu tersedak setelah mendengar perkataan tiba-tiba dari bapaknya. Tenggorokannya perih dan meronta-ronta ingin disiram air. Mpok Indun menjulurkan segelas air untuk menenangkan anaknya.
“Tapi…” Didot coba membantah.
“Sudahlah. Nurut saja sama orang tua. Lagian, bukan cuma karena kita gak punya biaya untuk membeli kebutuhan sekolah yang banyak itu. Toh, kamu sendiri juga selalu jeblok nilainya bertahun-tahun. Apa yang masih mau diharapkan?”
Didot tiba-tiba merenung, tatapannya kabur bermandikan kunang-kunang. Pening mendatanginya disebabkan pikirannya memanggil berbagai fakta yang tadi disebutkan bapaknya. Juga fakta-fakta lainnya menyangkut kondisi keluarganya yang… semua kelihatan gelap.
Ekonomi keluarga makin kepepet. Hutang terus membengkak seiring dengan masuk sekolahnya si Bileh ke Sekolah Dasar dan kebiasaan mabuk yang belum juga lepas dari Mang Ateng.
Untuk fakta selanjutnya soal dirinya yang selalu hampir tak naik kelas, ia tak bisa berbuat apa-apa. Itu kenyataan yang semua orang sudah mengetahuinya. Daya tangkapnya lambat, begitulah kata guru-guru. Kata para tetangga, lemot. Tapi Didot tak menyadari semua cap itu. Yang ia sadari adalah bahwa ia terus sekeras mungkin mencoba belajar dan memahami apa yang para gurunya ajarkan.
“Kalau aku gak sekolah. Terus aku ngapain, Pak?”
“Cari rongsokan. Kamu dan Bileh. Sewaktu Bileh masuk pagi, kalian keliling siangnya. Dan kalau Bileh masuk siang, kalian mencari dari pagi. Lumayan buat menambah pemasukan keluarga.”
“Tapi, bukannya aku baru masuk ke SMP. UTS aja belum?”
“Sudahlah, Dot! Jangan banyak ngebantah. Dengarin aja permintaan Bapakmu.” Bentak Mpok Indun.
“Selagi kalian mencari rongsokkan. Nanti Bapak usahakan mencari pekerjaan lain untuk kamu, Dot.”
***
Kejadian pagi itu lekas dikabarkan oleh Didot ke sahabatnya. Betapa terkejutnya Luhur. Ia terbawa emosi sampai langsung ingin melabrak orang tua Didot. Melihat itu, Didot pun lekas sekuat tenaga menahannya. Sampai urat-urat menonjol di pergelangan tangannya.
“Lah, gak bisa gitu dong, Dot! Masa iya, segitu enaknya orang tua lo minta lo berhenti sekolah!”
“Udahlah, Hur. Lagian bener juga apa kata Bapak gua, kan? Gua ini gak ditakdirkan untuk sekolah. Setiap tahun selalu hampir tinggal kelas.”
“Loh! Itu gak sepenuhnya salah lo. Ada tanggung jawab orang tua yang harusnya ngajarin anaknya, kan? Masa iya, mereka lepas tangan gitu aja?!”
“Yah, Hur… Lu tahu sendiri, orang tua gua gak sepintar orang tua lo atau orang tua anak-anak lainnya. Emak gua gak bisa baca dan tulis. Bapak gua cuma bisa penjumlahan dan pengurangan. Kayaknya, mustahil gak sih, Hur buat mereka ngajarin gua?”
“…” Luhur diam seribu bahasa.
“Tapi tetep aja, lo gak bisa berhenti sekolah, Dot!”
“Gua kan bakal kerja, Hur. Setelah punya uang yang cukup, pastinya gua gak bakal sering hutang ke lo lagi, kan? Hahaha!”
“Ah! Gak usah mikir ke sana dulu! Urusan jajan bukan masalah. Urusan masa depan lo jauh lebih penting!”
“Bukannya lulusan SD tetep bisa dapat kerjaan?”
“Zaman sekarang mana ada yang mau menerima lulusan SD, Dot? Kecuali lo mau ngehabisin sisa hidup lo dengan nguli atau kerja serabutan!”
“Apa salahnya jadi kuli atau kerja serabutan?” Secara jujur, otak Didot masih merasa bahwa semua pekerjaan itu sama. Yang penting kerja.
“Salah sih, enggak. Tapi… lo bisa dapat pekerjaan yang lebih layak kalo lo bisa melanjutkan sekolah.”
“Gak tahu lah, Hur. Kayaknya memang ini jadi takdir gua.”
Luhur makin terbawa emosi. Bahkan kini tangannya merenggut kaos sahabatnya. “Loh! Kok lo malah terbawa sama keinginan Bapak lo? Jujur, lo masih ingin sekolah kan, Dot? Iya kan, Dooot?!”
“Emmm…” Didot tampak berpikir, lumayan lama.
Luhur menunggu jawaban itu. Jawaban yang menunjukkan asa yang masih tersisa di dalam diri sahabatnya.
Setelah beberapa saat, Didot menjawab dengan nada getir, “Sekarang? Kayaknya bekerja jauh lebih baik, Hur. Setelah gua pikir-pikir, datang ke sekolah untuk di-bully oleh orang-orang yang gak gua kenal, dihukum guru karena cara jawab gua yang lambat, ditegur setiap minggu karena seragam gua yang sudah kekecilan dan butek. Semua itu akan hilang setelah gua kerja, kan?”
Bersambung…