Day 5 (JawabinPertanyaandariChatGPT)
Pernahkah Kamu Merasa Bahwa Menulis (atau Berkarya) Menyembuhkan Sesuatu dalam Dirimu?
Jawaban: Tentu pernah, dan hal inilah yang membuat menulis jadi terasa spesial.
Karya, apapun bentuknya kalau sudah bersifat personal – kita masukkan masalah, impian, dan hal-hal yang terpendam di diri kita ke dalamnya — seketika karya itu akan berubah jadi lebih spesial.
Tapi, apakah karya akan selalu menyembuhkan luka di dalam diri kita? So far, gua merasa iya. Meskipun tentu efeknya gak instan, ya.
Gua pribadi, terbiasa memakai 3 jenis karya ini untuk secara sengaja atau tidak – sebagai cara penyembuhan luka jiwa, yaitu jurnal, puisi, dan narasi (cerpen/novel). Ketiga bentuk karya tulis ini sebenernya punya efek penyembuhan yang berbeda satu sama lain. But wait, gua coba mikirin lebih dalem apa perbedaan ketiganya.
Yak! Udah nemu (setelah bermenit-menit nyari).
Jurnal: Proses Buang Sampah dari Dalam Jiwa
Jurnal itu yang paling bikin jiwa gua merasa plong. Karena saat nulis jurnal, gua akan mencurahkan sejujur-jujurnya apa yang gua rasakan tanpa coba memperindah cara bercerita gua (ya, dikit-dikit lah). Selain itu, nulis jurnal ngebantu gua banget untuk jadi peka terhadap banyak hal yang sebenernya penting tapi kurang terapresiasi dengan baik karena gua melupakannya begitu aja. Saat gua mereview dan coba menuliskannya, hal-hal baik itu jadi terlihat lebih jelas.
Jadi, jurnal tuh ibarat proses gua ngebuang sampah yang udah membusuk di dalam diri. Sekaligus cara gua belajar peka dalam melihat banyak hal penting yang bisa menggantikan sampah-sampah itu.
Kalau Puisi? Apa Efeknya Pak Haji?
Dalam proses penyembuhan jiwa gua dari luka-luka yang disebabkan cinta, omongan orang, trauma, dan lainnya – puisi sebenernya ngasih efek yang sama dengan jurnal, yaitu jiwa gua jadi lebih plong (beban berhasil tersalurkan).
Tapi… bedanya, puisi tuh lebih ngasih rasa aman selepas gua meluapkan berbagai kekecewaan, kedukaan, dan kebencian gua. Sebabnya jelas, kata-kata bersayap yang gua pakai akan bikin gak semua orang bisa menangkap makna langsung puisinya. Ini kayak pelukis yang bikin banyak simbolisme di lukisannya. Saat orang baca puisi gua, mereka gak bisa menerka langsung isiny
Hal lain yang puisi berikan ke gua, tentunya adalah keindahan. Keindahan membuat luka gak berhenti sebatas jadi rasa sakit tapi rasa sakit yang punya makna dalam hidup gua. Lewat puisi, gua bisa maknai tiap rasa sakit itu jadi apapun. Baik sebagai pelajaran yang bikin gua bijak, humor yang bikin gua cengengesan (bukan justru meringis), atau jadi obat pahit yang bisa ngebuat gua lebih berani menelannya karena gua tahu itu keharusan.
Menulis Cerpen dan Novel
Sebenernya gua jarang banget memasukkan luka ke dalam cerita (pendek/panjang) – jika dibandingkan dengan dua bentuk lainnya (jurnal dan puisi). Cerita lebih sering gua pakai untuk menyalurkan keresahan gua terhadap masalah di masyarakat dan hal ideal yang gua harapkan bisa terwujud di masyarakat. Tapi, dalam beberapa kesempatan, gua pun pernah menjadikan cerita sebagai medium penyembuhan luka.
Saat cerita yang gua buat banyak memasukkan konflik dan dialektika nyata yang gua rasakan, di situlah proses penyembuhan mulai berjalan. Saat tokoh (yang kerap jadi perwakilan karakter gua) mulai mengikuti konfliknya, berusaha menyelesaikannya, dan di akhir dia menghadapi berbagai kemungkinan: happy ending, bad ending, atau bitter ending – gua jadi lebih jernih melihat segalanya. Seolah gua melihat diri gua dari eagle eye angle.
Gua jadi tersadar dan mengakui: keputusan-keputusan bodoh yang udah gua ambil (yang diwakili si karakter utama), memaklumi berbagai respon yang diambil oleh orang-orang yang kecewa terhadap gua (yang diwakili karakter lain), yang intinya gua jadi tidak semata melihat dari kacamata gua. Semua bisa terjadi, karena gua memakai POV elang tadi.
Membuat alternatif ending cerita juga bikin gua jadi pribadi yang siap dengan berbagai hasil dari pilihan-pilihan hidup yang gua buat. Cerita kan gak selalu berakhir indah, hidup gua pun begitu. Dan terkadang ending yang getir terlihat lebih baik dan layak untuk diterima.
Believe Me, It Will Works
Yang perlu kita camkan adalah bahwa isi kepala dan jiwa kita bukanlah memori unlimited yang bisa nampung semua hal (apalagi yang bobotnya berat). Isi kepala dan jiwa kita punya batasan/kapasitas juga. Dan karya, jadi medium paling tepat buat kita mencurahkan beban-beban yang pengen kita lepaskan.
Ke manusia memang bisa. Bahkan lebih mantep kalau kita mencurahkannya ke profesional/ahli yang bisa nampung sekaligus ngasih jalan keluar terbaik atas luka-luka di dalam diri kita. Tapi kita gak bisa hidup 24 jam bareng manusia lain, kan?
Sebagian besar hidup kita dihabiskan bergantung ke diri sendiri. Dan di momen-momen kesendirian inilah jadi waktu yang pas buat kita melakukan metode penyembuhan luka-luka lewat karya, apapun itu bentuknya. Mau tulisan, lukisan, konten sosmed, lagu, dan banyak lainnya.
Believe me, it will works!