Day 2 (JawabinPertanyaandariChatGPT)

Kalau Kamu Bisa Mengirim Surat ke Dirimu di Usia 17 Tahun, Apa yang Akan Kamu Tulis?

Waktu Umur 17 Tahun
Waktu Umur 17 Tahun

Sejujurnya, gak banyak hal yang gua ingat di usia 17. Mungkin harus dipancing dulu, dengan foto-foto atau cerita dari orang lain 😀

Usia 17 berarti gua kelas 3 SMA. Bersiap menghadapi ujian akhir dan mulai ngebayangin tuh kehidupan anak kuliahan yang kayaknya asyik. Masuk kelas makai baju bebas (ya, meskipun gak boleh koloran), mulai cari cewek, dan perlahan hidup mirip orang dewasa.

Buat pria bermata sayu 9 tahun lalu, ini pesan dari masa depan:

“Rasa bimbang yang kamu rasakan di ujung jalan bercabang saat itu sepertinya belum terlalu besar dibanding rasa bimbang yang kelak kita rasakan bersama di fase selepas lulus kuliah. Mungkin karena saat itu, kita belum terlalu banyak berpikir, kita belum berjumpa dengan impian pribadi, dan kita belum dilanda kecemasan akibat terlalu berfokus membayangkan masa depan.

Meski ujian yang kamu hadapi di usia itu belum seberapa mengguncang. Tapi, dirimu di masa depan bangga bukan main. Menyadari seberapa sering dirimu tersenyum dan membuat orang di sekelilingmu melihat senyuman itu menjadi karaktermu. Mata yang menyipit, kerutan di pinggir mata, dan bibir yang gampang merekah. Kesedihan sepertinya amit-amit mendatangimu 😁

Hal lain yang membuatku bangga, tentu adalah karaktermu yang tak terlalu banyak menuntut keinginan. Di tengah godaan gaya hidup teman-teman seusiamu, yang sudah memiliki kendaraan pribadi, game console yang menyenangkan, pakaian branded, dan ongkos jajan yang sudah 5-10 kali lipat darimu. Tapi, kamu masih bisa tetap menjalani hidup dengan sederhana dan penuh syukur.

Berjalan kaki, bolak-balik ke yayasan tempatmu menjadi relawan, atau ke rumah temanmu buat kerja kelompok. Naik angkot bersama teman terdekatmu dari/menuju sekolah, tempat renang, dan tempat lari. Mengeluarkan uang dengan cukup. Pantas dirimu kurus kala itu 😂 Dan keputusanmu tak memiliki pacar juga patut diacungi jempol. Kamu tidak menyusahkan kedua orang tua yang masih membiayai hidupmu dengan membagi uang jajanmu ke orang lain yang belum tentu menjadi pasanganmu bertahun-tahun kemudian. Kau menikmati permainan bersama teman-teman terdekatmu di rental playstation yang sederhana. Dan bukankah itu lebih menyenangkan?

Menjalani hidup sepertimu tentunya tak akan bisa lagi. Memang, aku masih bisa bermain, baik sendiri atau bersama teman terdekat. Tapi perlahan semuanya berubah, seiring kami semua semakin menua. Kami (temanku dan aku) harus lebih sering bekerja untuk mengumpulkan sejumlah uang agar masa depan kami terjamin. Di luar itu, kami menghabiskan waktu bersama keluarga atau pasangan. Tapi buatku, aku lebih menikmati menghabiskan waktu sendiri. Sama sepertimu, kan? Ya, bagian dari kita yang satu ini tak berubah sampai sekarang. Aku masih nyaman berkutat dengan pikiranku, imajinasiku, menulis, membaca, mengerjakan beberapa project pribadi, dan aktivitas personal lainnya. Karena di situasi semacam inilah, kita merasa lebih damai dan jadi diri yang seutuhnya.

Sedikit Kabar Gembira Untukmu

Ada banyak kabar gembira yang sebenarnya bisa kuceritakan padamu. Tapi, mungkin di lain waktu kita bisa membicarakannya lagi. Sepertinya, aku akan menceritakan beberapa kabar gembira itu sekarang.

Kau pasti sudah tahu, bahwa aku baru memiliki motor pribadi pertamaku. Yang kubeli dari tabungan sendiri. Kita mesti bangga, kan? Khususnya dirimu. Sekarang kamu bisa memintaku bepergian ke manapun. Aku juga memiliki uang cukup yang bisa kita gunakan buat membeli apapun yang kamu mau. Karena mengenalmu, maka aku tahu, bahwa kamu bukan tipe orang yang ingin membeli sesuatu yang mahal. Hahaha. Jadi, pasti berapapun uang yang kupunya, dijamin cukup memenuhi keinginan-keinginanmu. 

Paling… ada 1 barang yang sampai saat ini belum kita miliki. Dan saat barang itu sudah dimiliki, sepertinya kita akan merasa cukup. Ya, Playstation. Sejujurnya, aku belum punya rencana pasti kapan akan membelinya. Kau pasti sudah tak tahan ingin memainkannya sampai puas, kan? Tapi, sepertinya kamu perlu bersabar sedikit. Ada prioritas lain yang harus kuurus di beberapa bulan ke depan. Semoga di tahun depan, kita sudah bisa memilikinya, ya!

Kabar gembira lainnya tentu perubahan baik dalam hidup kita. Menabung sekarang sudah jadi kebiasaan kita. Dulu, kau selalu abai akan hal itu, kan? Sekarang, kita harus merencanakan banyak hal, termasuk keuangan. Ini demi kebaikan kita di masa depan.

Sekarang juga, kita mulai nyaman dengan jati diri kita. Yang kumaksud adalah kita tidak lagi banyak menutupi banyak hal demi diterima di lingkungan. Sekarang, kita lebih berani bermimpi dan mengejar mimpi itu. Sekarang, kita lebih berani mengatakan tidak pada apa yang tidak diinginkan. Karena menurutku, itulah keutaman hidup. Proses menemukan jati diri kita. 

Di usiamu, rasanya sulit untuk mencapai titik penemuan jati diri. Kita masih menerima banyak hal dari luar dan membiarkan semuanya tertanam, tanpa diolah menjadi bentuk yang menjadi diri kita. Sekarang, aku menemukan bentukku. Aku meminimalisir hal yang tak kubutuhkan. Dan apa yang kubutuhkan, kuperbanyak fokus untuk menerimanya.

Aku tidak tahu. Mungkin ini terhitung kabar gembira kan, buatmu? Aku berharap begitu. Karena aku merasa bahagia saat menyadarinya.

3 Pesan Penutup

Aku ingin menutup surat ini dengan 3 pesan.

Pertama, tetaplah bersabar sedikit. Keinginan lama kita akan segera terwujud. Kesabaranmu akan memberikan kekuatan pada diriku.

Kedua, aku tahu kala itu mimpimu belum benar-benar jelas. Abstrak, mungkin itulah istilah yang pas, ya? HAHAHA. Kau masih ingin menjadi beberapa profesi. Tapi kini, saat ada 1 mimpi yang sudah jelas kutetapkan dan sepertinya kau juga akan menyukainya. Tolong bantu aku mewujudkannya. Temani aku di saat-saat sulit, di kala aku merasa sendirian di tengah jalan mengejar mimpi ini. Berikan aku ide-ide menarikmu yang akan amat berharga untuk kugunakan.

Terakhir, banggalah pada dirimu.

Semoga di lain waktu kita bisa berbincang lagi. Atau kalau kau mau, kau bisa membalas surat ini dengan datang ke mimpi. HAHAHA. Apakah bisa? Entahlah.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *