Day 1 (JawabinPertanyaandariChatGPT)

Apa Pertanyaan Tentang Kehidupan yang Justru Lebih Menarik daripada Jawabannya?

Ilustrasi Planet Alien
Ilustrasi Planet Alien

Jawaban: Apakah di luar bumi terdapat kehidupan?

Pertanyaan klasik, ya? Para penikmat konspirasi atau penikmat sains pasti pernah mengajukan pertanyaan tersebut. Masa sih, di alam semesta yang seluas ini dan yang telah terbentuk miliaran tahun ini, tapi kehidupan cuma ada di bumi?

Kurang lebih pertanyaan itu juga yang sempet bikin seorang fisikawan terkenal, Ernesto Fermi kepikiran. Yang pada akhirnya melahirkan “Paradoks Fermi”: Di tengah tingginya kemungkinan buat peradaban lain hidup di semesta ini, tapi kok bukti-buktinya gak pernah ada?

Kenapa Pertanyaannya Menarik?

Jujuuuurrr, pertanyaan “Apakah di luar bumi terdapat kehidupan?” bener-bener terasa luar biasa buat gua. Karena ngebayangin alam semestanya aja udah amaze, apalagi coba ngebayangin ada peradaban lain yang hidup di antara triliunan planet!

Dan, pertanyaan ini juga menurut gua lebih challenging dibanding pertanyaan, “Apakah Tuhan ada?” Karena untuk menjawab eksistensi Tuhan, kita bisa neliti/cari tahu bukti-buktinya di langit dan bumi yang bisa terjangkau manusia. Tapi kalau neliti/cari tahu bukti-bukti keberadaan makhluk lain di luar angkasa? Jadi PR banget, karena luasnya minta ampun, men!

Pertanyaan “Kehidupan di Luar Bumi” Lahir dari Kekerdilan yang Dirasakan Umat Manusia

Kita bisa sampai ke pertanyaan ini setelah sebelumnya telah sampai ke pemahaman bahwa semesta ini memiliki USIA dan LUAS yang di luar nalar kita. Bayangin, usia semesta sejak pertama kali meledak diperkirakan udah 13 miliar tahun. Jumlah galaksi yang ada di dalamnya diperkirakan milyaran-triliunan. Siapa yang gak mangap saat tahu fakta tersebut?!

Kemudian manusia pun mulai sadar, kalau semesta sebegitu luasnya dan udah sebegitu tuanya, masa iya sih kehidupan cuma dialami di planet yang besarnya cuma kayak atom? Kita pun merasa kecil, kerdil, dan tak seberapa. Maka dari itu kita bertanya, “Kooook bisa?”

Keterbatasan dan Ketidaktahuan Mesti Dimiliki Manusia

“Merasa kecil, kerdil, dan tak seberapa” inilah yang menjadi kebutuhan kita.

Kayaknya alamiah, ya, buat manusia untuk berusaha menjadi tahu, berusaha melewati batas-batas yang selama ini belum bisa dilewati. Tapi saat dorongan itu bisa terpenuhi atau terjawab oleh manusia, kita sedikit demi sedikit menjadi angkuh & besar.

Maka dari itu, memang semestinya ada pertanyaan yang tak terjawab meski dunia nantinya sudah terlanjur kiamat. Khususnya soal eksistensi kehidupan di luar bumi.

Manusia tentu boleh aja terus menerus mencari jawabannya. Dan di proses pencarian jawaban inilah kita terus merasa kecil dan merasa tak seberapa di tengah keajaiban semesta. Dan akan lebih baik bila terus seperti ini.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *