Day 4 (JawabinPertanyaandariChatGPT)
Apa Hal yang Dulu Kamu Anggap Penting, Tapi Sekarang Tidak Lagi Berarti?
Jawaban: Impian “Pengen Dikenang Setelah Meninggal”
Btw, di series 30 hari (meskipun gak berturut2 wkwk) jawabin pertanyaan ChatGPT yang lagi on going ini, gua udah mulai ngerasain manfaatnya. Beberapa pertanyaan yang sifatnya maksa gua buat look back, ternyata bikin gua jadi lebih sadar dengan perjalanan hidup gua yang udah lumayan panjang. Huahaha #Udahtuabangetgua!
Kayaknya kalo gak bikin project 30 hari jawabin ChatGPT, gua cuma ngelihat ke belakang sebanyak hitungan jari. Salah satunya tentu pas momen ulang tahun. Selebihnya paling kalo lagi gabut atau stress berat sehingga bikin gua coba nginget berbagai momen penting di masa lalu.
Apakah Seorang Arul Sudah Banyak Berubah?
Gua termasuk orang yang ngerasa hidup gua gak banyak berubah. Baik karakter, impian, maupun cara pandang. Tapi dan tapi… setelah coba jawabin pertanyaan random dari ChatGPT (yang mana gua ngide sendiri), gua jadi tersadar bahwa cukup banyak hal yang berubah di diri ini.
Salah satu yang baru aja gua sadarin udah berubah adalah impian yang gua punya. Sejak kecil sampe sekarang, impian gua terus berubah. Ada impian baru, ada juga yang keganti atau bahkan gak jadi gua impiin (terlalu gak masuk akal).
Contoh impian yang gak masuk akal adalah menjadi politikus miskin. Gua pernah jadiin ini cerpen, tapi belum gua upload di blog ini. Tungguin aja nanti gua upload, hehe.
Tapi bener! Saat jaman kuliah, waktu gua mulai tertarik dengan dunia politik karena abis ketemu MK Pancasila. Gua jadi mulai ngikutin kisah Bapak Pendiri Bangsa kita, yang terkenal karena hidupnya yang luhur, sederhana, dan penuh integritas.
Kalau lu pengen nyiptain perubahan di masyarakat, masuk ke kekuasaan bisa jadi salah satu cara efektif. Karena lu bisa terlibat langsung dalam pembuatan kebijakan yang nguntungin masyarakat.
Sempet lah ada momen di mana gua rutin ngekhayal bahwa suatu saat nanti gua bisa jadi pemimpin yang hidupnya sederhana, tinggal di perkampungan/pinggiran, blusukan tanpa kamera pas malem-malem, masuk ke gorong-gorong (yang ini enggak sih, udah dipake ama orang lain), diskusi kebijakan sama para profesional (bring back meritocracy!), dan banyak lagi yang gua khayalin.
Tapi melihat sistem politik sekarang yang… you know lah! Kayaknya bakal susah buat seorang politikus terus hidup sederhana meski telah ngejabat. Better gua kembali ke impian gua buat jadi penulis aja, deh.
Ya, itulah sekilas inpo. Itu salah satu contoh bahwa impian yang gua anggap penting bisa aja berhenti gua impiin.
Kenapa Gua Gak Mau Lagi Mimpi “Pengen Dikenang Setelah Meninggal”?
Satu impian lainnya yang gua ikut revisi adalah “pengen dikenang setelah meninggal”. Impian satu ini kayaknya cukup lumrah dimilikin oleh banyak orang. Apalagi mereka yang berharap di kemudian hari, bisa ngasih banyak kontribusi ke masyarakat.
Tapi kenapa gua gak lagi menjadikan itu sebagai impian? Simplenya karena di harapan itu gua berekspektasi ke respon orang lain. Gua menggantungkan harapan gua ke respon manusia. Padahal seperti yang kita tahu, respon eksternal itu gak bisa kita kontrol.
Yang paling utama adalah di kontribusi kitanya, kan? Bukan respon masyarakat terhadap kontribusi kita? Selama kontribusi kita nyata terasa di masyarakat, membantu masyarakat, menciptakan perubahan yang signifikan. Respon masyarakat, apakah mau mengenang jasa kita atau tidak, itu bukan suatu yang amat penting sehingga harus kita perjuangkan sebagai impian. Kalau mau bicara respon, yang penting justru respon yang di atas (Allah SWT). Bagiamana Dia melihat usaha dan hasil kontribusi kita di akhir.
Sepatah-Dua Patah Terakhir
Urusan akan dikenang atau enggak, menurut gua bukan jadi perkara penting. Lebih baik, isi kepala kita diisi dengan jenis impian lain. Pengen bisa kontribusi di bidang literasi, pengen bangun yayasan sendiri, pengen lahirin terobosan baru, dan jenis impian lainnya yang fokus di impact.
Hal ini bakal ngebantu kita buat gak terlalu fokus ngejar respon dari eksternal. Karena yang gituan susah dikontrol atau diprediksi. Ye, kan?